3 Tipe Khas Rumah Adat Gorontalo

Gorontalo menjadi salah satu provinsi yang berkembang dan semakin modern sekarang ini, provinsi yang terletak di Sulawesi ini masuk kedalam salah satu provinsi termuda di Indonesia karena baru diresmikan sekitar Desember tahun 2000. Tentu sebagai provinsi Gorontalo bukan berarti tidak memiliki budaya dan rumah khas yang jelas.

Budaya ataupun suku Gorontalo dipelihara dengan baik, meskipun daerahnya terus tumbuh dan juga berkembang jauh sebelum provinsi ini diresmikan. Namun pemerintah dan masyarakatnya tetap menjunjung tinggi budaya dan kelestariannya, termasuk desain rumah adat Gorontalo yang terbagi menjadi 2 tipe khas. Apa saja ? akan kita bahas dalam artikel berikut ini.

1. Rumah Bandayo Pamboide

Rumah Bandayo Pamboide

Rumah pertama bernama rumah Bandayo Pamboide, dimana rumah ini memiliki fungsi yang sama dengan namanya. Bandayo memiliki arti gedung sehingga rumahnya pasti berukuran sedang atau besar.

Sedangkan Pambide artinya tempat untuk bermusyawarah. Rumah ini memang dibuat seperti balai tempat berkumpul untuk para tetua atau pemuka adat yang sering mengumpulkan masyarakatnya untuk berdisuksi.

Selain itu ciri yang paling terlihat dari rumah Bandayo Pamboide yakni pembagian ruangan yang berupa kamar-kamar dengan sekat yang terbuat dari papan. Jika anda menemukan rumah dengan bentuk sekat dan kamar dibatasi menggunakan papan maka rumah tersebut masuk ke tipe Bandayo Pamboide.

Namun untuk sekarang ini rumah Bandayo Poboide jarang digunakan masyarakat modern dan hanya menjadi media untuk melestarian dan mengembangkan seni dan budaya daerah Gorontalo. Anda bisa menemukan rumah adat ini pada museum khas tradisional dan budaya di Gorontalo.

2. Rumah Dulohupa

Selanjutnya adalah rumah Dulohupa, dimana rumah ini memiliki arti mufakat ataupun kesepakatan. Dulunya rumah ini digunakan untuk tempat bermusyawarah keluarga kerajaan atau tamu penting kenegaraan.

Sehingga bagi mereka yang bisa masuk dan merasakan rumah ini berarti termasuk kepercayaan kerajaan. Rumah ini juga digunakan untuk melakukan sidang bagi pengkhianat negara melalui sidang tiga tahap pemerintahan yaitu Buwatulo Bala (Tahap keamanan), Buwatulo Syara (tahap hukum agama Islam) dan Bawatulo Adati (Tahap hukum adat).

Selain itu Rumah Adat Dulohupa termasuk rumah yang disebut sakral dan memiliki arti yang sangat baik. sehingga sering digunakan untuk pagelaran upacara adat, layaknya adat pernikahan kerajaan maupun pagelaran budaya dan seni khusus kerajaan.

Sekarang ini rumah Dulohupa benar-benar dijaga dan dilestarikan, apalagi keturunan keluarga kerajaan masih ada meskipun tidak memiliki wewenang seperti dulu.

3. Rumah Adat Gobel

Rumah adat selanjutnya mungkin jarang didengar oleh masyarakat non Gorontalo, ataupun anda yang berasal dari Gorontalo namun jarang mempelajari adat atau budaya dari Gorontalo. Rumah ini masih ada disekitar lokasi di Kecamatan Tapa Kabupaten Bone Bolango Provinsi Gorontalo.

Dulunya rumah ini tidak sembarangan dimana hanya keluarga kerajaan Raja Gobel yang memiliki dan menempatinya.

Namun sekarang ini rumah adat Gobel diperbolehkan oleh masyarakat umum dan digunakan untuk upacara resmi oleh pemerintah setempat. Selama acara tersebut mengandung unsur budaya dan diperbolehkan oleh pemerintah, acara bisa berlangsung di rumah ini.

Bentuknya yang unik sering dimanfaatkan oleh masyarakat Gorontalo maupun pemerintah untuk mengadakan acara ataupun berbagai pekan budaya sehingga bisa mengundang para turis maupun anak muda jaman sekarang untuk paham dan mengerti seperti apa rumah adat Gorontalo yang banyak digunakan dan dimiliki masyarakat Gorontalo atau raja jaman dahulu. Tentu penampilannya masih sama dan selalu dirawat.

Leave a Comment