3 Keunikan Rumah Adat Honai, Papua

Mutiara hitam dari Papua memang tidak pernah luput atau selesai jika dibicarakan. Provinsi yang terletak di wilayah timur Indonesia ini memiliki luas 309.934,4 km2 dan menjadi provinsi terluas di Indonesia, tentu karena terlalu luas sampai berbagai budaya, suku dan juga adat tidak hanya ada satu melainkan puluhan sampai ratusan. Berbagai suku juga menempati wilayahnya sendiri dan hidup terpencar.

Jika bicara soal adat maka anda tentu tahu bahwa Suku asli masyarakat Papua sendiri berjumlah ratusan dengan beberapa suku mayoritas di antaranya suku Dani, Damal, Amungme, Arfak, Asmat, Yali, dan lain sebagainya.

Dalam artikel ini kita akan membahas mengenai rumah unik khas Papua dan menjadi rumah adat salah satu suku yaitu Rumah Adat Honai. Dengan 3 keunikannya artikel ini sangat menarik untuk disimak, apa saja ?

Rumah Adat Suku Dani

Rumah Adat Honai

Untuk anda yang tidak tahu, rumah adat Honai merupakan salah satu rumah tradisional suku Dani di Kabupaten Jayawijaya dan suku-suku asli yang mendiami wilayah pegunungan tengah Papua. Hampir semua area tersebut sudah tidak nomaden alias berpindah, namun rumah adat yang mereka bangun merupakan rumah Honai.

Untuk mereka yang masih membangun rumah ini, dilakukan sesuai tradisi dan juga turun temurun. Tidak ada hal yang dikurangi maupun ditambahkan, semua sesuai ketentuan dari sesepuh atau tetua adat. Makna dari rumah Honai yakni “Hun” yang berarti pria dewasa dan “Ai” yang berarti rumah.

Tempat Musyawarah

Keunikan selanjutnya, meskipun rumah adat ini berada di pegunungan namun sesama adat tetap melaksanakan rapat atau tempat untuk bermusyawarah untuk kepentingan mengadakan pesta adat ataupun menyusun strategi jika ada perang suku.

Mengingat di Papua memang masih berlaku hukum rimba, ketika ada suku yang berkuasa atas satu tempat dan anda ingin merebutnya maka harus melalui perang suku terlebih dahulu. Bahkan tak jarang menjadi perang saudara hanya untuk perebutan wilayah.

Untuk tempat musyawarah rumah Honai juga tidak bisa digunakan sembarangan, mengingat masyarakat yang membangun strategi perang dan juga menyelesaikan masalah jika terjadi sesama suku Dani atau adat tersebut maka membutuhkan rumah Honai yang aman dan juga tidak terdeteksi oleh mata-mata. Rumah yang dipilih biasanya rumah tetua adat atau sesepuh.

Terbagi menjadi 2

Rumah Honai sendiri terbagi menjadi dua kategori, pertama yaitu Honai yang diberikan atau dibuat khusus untuk para perempuan yang disebut “Ebeai,”. Arti dari kata Ebeai yakni “Ebe” atau tubuh atau bisa dibilang pengertiannya kehadiran tubuh sedangkan “Ai”yang berarti rumah.

Untuk kategori laki-laki, nama honai laki-laki dalam bahasa Lani disebut “ap inakunu” dan honai perempuan disebut “kumi inawi.” Orang Lani mempunyai tiga honai, yakni honai bagi kaum laki-laki, honai perempuan dan juga honai untuk peliharaan kesayangan mereka yaitu ternak babi. Karena dianggap menguntungkan dan bisa menaikan ekonomi seseorang dengan menjual atau melakukan barter.

Selain itu khusus untuk Honai laki-laki tidak memperbolehkan kaum perempuan atau orang-orang tertentu masuk dan melihat isi Honai mereka. Sedangkan honai yang digunakan untuk para perempuan biasanya dikhususkan bagi ibu-ibu, anak-anak perempuan dan anak-anak lelaki yang masih kecil atau menyusui karena tidak bisa lepas dari ibunya.

Seperti halnya honai pria, honai perempuan juga akan berlangsung proses pendidikan secara terus-menerus bagi anak-anak perempuan.

Leave a Comment